Sabtu, 05 November 2011

a shame?

Bulan Oktober lalu saya alami dengan normal dalam standar saya. Ada 2 dialog yang paling memikat hati dan saya ingin berbagi,

#1
Saya (S) : Mbak, ini harganya berapa? (menunjuk sebuah cardigan yang dijual
Pemilik toko (P) : 100,000
S : Nggak bisa kurang?
M : Nggak... Udah pas...
S : Beli gak ya??? (meminta pendapat teman disebelah)
Teman : Jangan... Lihat-lihat aja dulu...
Memutar-mutar pusat perbelanjaan, dan kembali ke toko tersebut
S : Ehm.. Mbak, ini jaketnya berapa? (maksud tersembunyi) 
Mbak penjaga toko (M): 210,000 (mbak pemilik toko berjalan ke arah luar melihat saya)
S : Eh eeeh lihat-lihat aja dulu deh mbak...
Memutar-mutar pusat perbelanjaan, dan kembali ke toko tersebut
S : Mbak, ini cardigannya harganya berapa?
P : 100,000. Udah pas mba gak bisa ditawar...
S : Yaudah deh beli...
P : Dicoba mba di dalam... (masuk ke kamar ganti dan mencoba, lalu keluar untuk membayar)
S : Mbak.. eh.. ini duitnya (tiba-tiba yang menerima adalah mbak M) 
M : (tadinya menunduk, menatap saya) Euhm... (tersenyum dan tertawa kecil)
S : (senyum balik)

#2 
Saya (S)  : (posisi setengah ngantuk di kol jurusan bocor)
Penumpang di sebelah (P) : -dari bahasanya sepertinya orang padang- (menelepon ) Iyo... Anak ambo satu jiko wisuda di bulan Juli, nak ambo balikan Blackberry... (yang sedang ditelepon berbicara; sepertinya bertanya) Oh Blackberry itu handphone... (yang sedang ditelepon berbicara lagi; sepertinya bertanya) Henfon! (teriak). Oh kalo anak ambo yang kadua, kaleh duo SMA..... Oh yo apa kabarnyo si itu... (ganti topik)
S  : .....

Sabtu, 24 September 2011

MakBok

Saya mengidamkan komputer jinjing keluaran Epel (samaran) yang bernama jual Mak Bok Pow (samaran) sejak akhir SMP (2009). MakBok dikenal dengan harganya yang sulit dijangkau .

Meminta barang gadget bukan hal mudah buat saya, karena 2 hal. selain karena gak-punya-uang ,rasa kemanusiaan saya yang memikirkan anak-anak di Afrika, Palestina, dan di Taman Lawang yang sulit mencari makan.

Saya semakin tak terkendali, bila malam saya memimpikannya, bila siang saya sekolah.Bahkan saya sudah menyiapkan nama untuknya jika kelak saya bisa memilikinya, Alejandra.

Suatu waktu, saya meminta MakBok kepada orangtua, istilahnya nembung lah. begini jawabnya ," MakBok kuwe panganan apa sihhh jan jane???10 ewu jujul pora?" Saya hanya diam, antara kesal dan ingin tertawa, saya hanya bisa menarik kesimpulan: bapak saya katro.

tapi ketidakberadaan MakBok entah kenapa berangsur menjadi bukan hal besar bagi saya. Mungkin perjalanan waktu mendewasakan saya untuk sadar bahwa tidak semua yang saya inginkan itu krusial, atau mungkin Kompak presario CQ40 (samaran) sudah cukup membuat hidup saya bahagia.